web 2.0
"INFORRMATIKA SERVICE CENTER" Pusat Informasi & Konsultasi (Melayani Service Komputer, Kursus Teknisi Komputer, Privat/group; 085 742 264 622

Selasa, 16 Agustus 2011

Telaah Analitik Materi Hadits Tentang Kewajiban dan Metode Dakwah dalam Buku Ajar Qur’an Hadits Madrasah Aliyah

Buku adalah bahan tertulis yang menyajikan ilmu pengetahuan buah pikiran dari pengarangnya. Oleh pengarangnya isi buku didapat dari berbagai cara misalnya: hasil penelitian, hasil pengamatan, aktualisasi pengalaman, otobiografi, atau hasil imajinasi seseorang yang disebut sebagai fiksi. Menurut kamus oxford, buku diartikan sebagai: Book is number of sheet of paper, either printed or blank, fastened together in a cover (buku adalah sejumlah lembaran kertas baik cetakan maupun kosong yang dijilid dan diberi kulit). Buku sebagai bahan ajar merupakan buku yang berisi suatu ilmu pengetahuan hasil analisis terhadap kurikulum dalam bentuk tertulis.[1]
Buku yang baik adalah buku yang ditulis dengan menggunakan bahasa yang baik dan mudah dimengerti, disajikan secara menarik dilengkapi dengan gambar dan keterangan-keterangannya, isi buku juga menggambarkan sesuatu yang sesuai dengan ide penulisannya. Buku pelajaran berisi tentang ilmu pengetahuan yang dapat digunakan oleh peserta didik untuk belajar, buku fiksi akan berisi tentang fikiran-fikiran fiksi si penulis, dan seterusnya.
Dalam menelaah (untuk kepentingan evaluasi dan pengembangan) materi pembelajaran hadits tentang perintah dan prinsip dakwah dalam buku ajar Qur’an Hadits Madrasah Aliyah kelas XII (berdasarkan kurikulum tahun 2006) terdapat sejumlah komponen yang sebenarnya perlu diamati. Komponen pengamatan (evaluasi) tersebut mencakup kelayakan isi, kebahasaan, sajian, dan kegrafikaan.[2]
Komponen kelayakan isi mencakup, antara lain:
  1. Kesesuaian dengan SK, KD
  2. Kesesuaian dengan perkembangan anak
  3. Kesesuaian dengan kebutuhan bahan ajar
  4. Kebenaran substansi materi pembelajaran
  5. Manfaat untuk penambahan wawasan
  6. Kesesuaian dengan nilai moral, dan nilai-nilai sosial
Komponen Kebahasaan antara lain mencakup:
  1. Keterbacaan
  2. Kejelasan informasi
  3. Kesesuaian dengan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar
  4. Pemanfaatan bahasa secara efektif dan efisien (jelas dan singkat)
Komponen Penyajian antara lain mencakup:
  1. Kejelasan tujuan (indikator) yang ingin dicapai
  2. Urutan sajian
  3. Pemberian motivasi, daya tarik
  4. Interaksi (pemberian stimulus dan respond)
  5. Kelengkapan informasi
Komponen Kegrafikan antara lain mencakup:
  1. Penggunaan font; jenis dan ukuran
  2. Lay out atau tata letak
  3. Ilustrasi, gambar, foto
  4. Desain tampilan
CONTOH INSTRUMEN EVALUASI FORMATIF BAHAN AJAR
Judul Bahan Ajar       : ………………………………………………………..
Mata Pelajaran         : ………………………………………………………..
Penulis                      : ………………………………………………………..
Penerbit                    : ………………………………………………………..
Tahun Terbit             : ………………………………………………………..
Petunjuk pengisian
Berilah tanda check (v) pada kolom yang paling sesuai dengan penilaian Anda.
1 = sangat tidak baik/sesuai
2 = kurang sesuai
3 = cukup
4 = baik
5 = sangat baik/sesuai
No Komponen 1 2 3 4 5

KELAYAKAN ISI




1 Kesesuaian dengan SK, KD




2 Kesesuaian dengan kebutuhan siswa




3 Kesesuaian dengan kebutuhan bahan ajar




4 Kebenaran substansi materi




5 Manfaat untuk penambahan wawasan pengetahuan




6 Kesesuaian dengan nilai-nilai, moralitas, sosial





KEBAHASAAN




7 Keterbacaan




8 Kejelasan informasi




9 Kesesuaian dengan kaidah Bahasa Indonesia




10 Penggunaan bahasa secara efektif dan efisien





SAJIAN




11 Kejelasan tujuan




12 Urutan penyajian




13 Pemberian motivasi




14 Interaktivitas (stimulus dan respond)




15 Kelengkapan informasi





KEGRAFISAN




16 Penggunaan font (jenis dan ukuran)




17 Lay out, tata letak




18 Ilustrasi, grafis, gambar, foto




19 Desain tampilan




Mengingat keterbatasan kemampuan, waktu dan tempat dalam pembahasan di makalah ini lagipula makalah ini hanya mengamati aspek penyajian materi hadits mengenai kewajiban dan prinsip/metode dakwah dalam 2 buah buku materi ajar qur’an hadits yakni buku bahan ajar qur’an hadits yang ditulis oleh Lilis Fauziah R.A. dan Andi Setiawan berjudul “Kebenaran Al-Qur’an dan Hadits untuk Kelas XII (Berdasarkan Standar Isi MA Tahun 2006)”,  penerbit Tiga Serangkai Mandiri Solo terbitan tahun 2007 dan buku kedua yang ditulis oleh Drs. Abd. Haris, M.Ag berjudul “Rahasia Warisan Nabi: Qur’an Hadits untuk MA Kelas XII”,  penerbit Pustaka Insan Mandiri Yogyakarta, terbitan tahun 2006 maka penulis hanya menyoroti beberapa aspek saja. Yang pertama, permasalahan pencantuman (pemilihan) hadits. Kedua, aspek kesesuaian dengan kebutuhan bahan ajar dan konteks kekinian. Ketiga, aspek kebenaran substansi materi pembelajaran. Keempat, aspek kesesesuaian bentuk evaluasi materi dengan aspek penilaian kognisi, afeksi dan psikomotorik.
Buku yang pertama yakni buku bahan ajar qur’an hadits yang ditulis oleh Lilis Fauziah R.A. dan Andi Setiawan berjudul “Kebenaran Al-Qur’an dan Hadits untuk Kelas XII (Berdasarkan Standar Isi MA Tahun 2006)”, penerbit Tiga Serangkai Mandiri Solo terbitan tahun 2007 (selanjutnya disebut buku 1). terkait dengan topik hadits yang dibahas, di buku ini hadits yang ditampilkan ialah hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari jalur sanad Anas RA. Redaksi hadits yang dimaksud yakni :
****************** (belum diupload contoh hadits nya dlm bentuk jpg asli copy an dari buku)
Salahsatu poin positif dari aspek pertama ini ialah adanya pencantuman nomor hadits. Ini tentu akan mempermudah bagi guru atau siswa yang ingin mencek langsung ke kitab hadits nya. Sedangkan buku kedua yakni bahan ajar qur’an hadits yang ditulis oleh Drs. Abd. Haris, M.Ag berjudul “Rahasia Warisan Nabi: Qur’an Hadits untuk MA Kelas XII”, penerbit Pustaka Insan Mandiri Yogyakarta, terbitan tahun 2006 (selanjutnya disebut buku 2), hadits yang dicantumkan ialah hadits riwayat Tarmizi dan hadits riwayat Muslim sebagaimana tersebut di bawah ini namun tidak mencatumkan nomor hadits dalam kitab:
****************** (belum diupload contoh hadits nya dlm bentuk jpg asli copy an dari buku)
Di buku 1 hadits yang tertera di atas dicantumkan di bawah sub topik “Hadits Tentang Perintah Bersikap Lemah Lembut dalam Berdakwah” sedangkan di buku 2 hadits-hadits yang dicantumkan tersebut berada di bawah sub topik “Metode Dakwah Rasululullah”. Untuk menilai kualitas sanad dan matan hadits bersangkutan penulis hanya mengutipkan hasil penelitian sdr. Zuri Pamuji dalam makalahnya “Nilai-Nilai Edutainment dalam Sisi Kehidupan Nabi: Studi Hadis Bukhari No 67 Dalam Kitab Al-‘Ilm” berupa :
  1. Bahwa melalui takhrij hadis, ditemukan 4 hadis yang sejalan dengan hadits tersebut yakni Shahih Bukhari, dalam bab Adab, no 5660, Shahih Muslim, dalam bab al-jihadu wa al-sayiru, no: 3264, Musnad Ahmad, dalam bab Baqii al-Mukatsiriin, hadits no: 11883 dan Musnad Ahmad, dalam bab Baqii al-Mukatsiriin, hadits no: 12698.
  2. Berdasarkan i’tibar sanad, bahwa hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari tersebut hanya ada satu periwayat pada tingkat sahabat, yaitu Anas bin Malik, sehingga hadis ini termasuk hadis gharib. Dan menurut Fatkhur Rahman, hadis gharib ini masuk pada hadis ahad, sehingga hasil kesimpulan sementara dari penelitian ini menyatakan bahwa hadis diriwayatkan oleh Imam Bukhari ini termasuk kategori hadis ahad.
  3. Berdasarkan kajian terhadap sanad, hadits  di atas termasuk hadits shahih. Sebab, secara keseluruhan, periwayat dalam hadis ini kredibilitasnya diakui oleh para ulama dan berkualitas tsiqah (‘adil dan dhabit}), sanadnya bersambung (muttashil), serta terhindar dari syadz (kejanggalan), dan ‘illah (cacat).
  4. Berdasarkan kajian terhadap matan, hadis riwayat Imam Bukhari ini berstatus sebagai hadis shahih
Adapun hadits riwayat Turmudzi dalam buku 2, penulis menghubungkan hadits tersebut dengan sebuah teks hadits yang telah ditakhrij oleh sdr. Dzulhaq Nurhadi dalam makalahnya “Perintah untuk Amar Ma’ruf Nahi Munkar : Studi Hadits Riwayat Muslim dari Abu Sa’id al-Khudri” karena memiliki kemiripan dari segi teks. Namun mengingat teks hadits dalam buku 2 yang penulis amati tidak mencantumkan sanad yang lengkap maka penulis menganggap ketiadaan sanad dalam pencantuman hadits dalam buku 2 merupakan kekurangan berikutnya (setelah sebelumnya tidak mencantumkan nomor hadits) yang jelas terlihat dalam penyajian bahan ajar di buku tersebut. Seharusnya pengarang buku mencantumkan sanad hadits dalam bentuk yang minimalis sebagaimana yang terdapat pada buku 1.
Kemudian pada aspek kesesuaian dengan kebutuhan bahan ajar dan konteks kekinian, di buku 1 terlihat bahwa sajian materi penjelasan terkait standar kompetensi dasar berupa “menganalisa hukum dan metode dakwah” dinilai sudah cukup baik karena meskipun penjelasannya tidak terlalu panjang (mengingat materi hadits menjadi satu paket dengan pembahasan ayat) namun untuk konteks kebutuhan bahan ajar sudah terpenuhi. Misalnya dengan mencantumkan pengertian singkat mengenai pengertian dakwah kemudian penjelasan mengenai mengapa dakwah perlu dilakukan dengan sikap yang lembut. Selain itu urutan pembahasan per alinea dianggap sudah cukup runut dan logis. Untuk buku terbitan Tiga Serangkai ini bahkan sudah dilengkapi dengan “Kamus Kecil” yang berisi penjelasan mengenai beberapa istilah yang digunakan dalam materi pembahasan tentang dakwah. Meski terlihat sepele namun sesungguhnya ini sangat membantu siswa bersangkutan dalam memahami beberapa istilah seperti “emosi, mayoritas, esensi, harmonis dan fleksibel” (hlm. 16). Hanya saya sayangnya dalam kaitan kesesuaian materi dengan konteks kekinian di buku 1 tersebut tidak disertakan bahasan singkat mengenai contoh dakwah yang dilakukan dalam era modern sekarang. Menurut penilaian penulis dari sudut pandang penyajian materi bahasan mengenai hukum dan metode dakwah yang dimuat dalam buku ini terlalu berorientasi pada aspek kognisi.
Di buku 2, materi mengenai kewajiban dakwah dan metode dakwah diberi judul yang cukup menarik yakni “Dakwah, Dulu dan Kini” yang jika digabung dengan materi penjelasan ayat maka jumlah halaman buku yang dihabiskan adalah 8 halaman (belum termasuk evaluasi). Salahsatu bahasan yang menarik yang dicantumkan dalam buku ini ialah tentang napak tilas dakwah Rasulullah (hlm. 3). Untuk kepentingan pembelajaran aspek afektif, cerita heroik seputar perjalanan dakwah Nabi Muhammad sebenarnya membuka ruang kreatifitas guru untuk membangkitkan ghirah keagamaan dan menyentuh emosi peserta didik. Di buku ini pula nilai plus lainnya ialah penyertaan contoh bentuk dakwah dalam era kekinian. Di halaman 8 misalnya disebutkan :
seorang penyanyi tentu akan lebih efektif jika melakukan dakwahnya melalui lirik-lirik lagu yang ia ciptakan. Seorang sineas dapat menempuh dakwah melalui media sinetron yang bermutu dan begitu seterusnya.”
Untuk aspek kognisi penulis menilai bahwa materi bahasan yang terdapat dalam topik di buku 2 ini sudah cukup bagus. Ini misalnya terlihat dari bahasan mengenai pengertian dakwah dari sudut etimologis dan terminologis. Lagipula jumlah halaman pembahasan yang sebanyak 8 halaman tentu akan sangat membantu memperkaya pemahaman kognisi dan sekaligus afeksi yang kentara terlihat di buku 2 ini dibanding buku 1  yang hanya berupa 4 halaman.
Adapun mengenai aspek ketiga, yakni kebenaran substansi materi pembelajaran, di buku 1 dan buku 2 penulis nilai secara keseluruhan insya Allah sudah sesuai dengan nilai kebenaran luhur ajaran Islam mengenai dakwah. Namun khusus untuk buku terbitan Tiga Serangkai ada satu alinea yang cukup mengganggu yakni pada halaman 16 di paragrap terakhir yang menyebutkan:
Perintah dakwah dengan lemah lembut bukan berarti menyuruh kita masa bodoh terhadap kemungkaran dan kemaksiatan. Akan tetapi perintah tersebut dimaksudkan agar dalam melaksanakan dakwah dijalankan dengan jalan terbaik. Kita diperbolehkan menggunakan cara-cara yang keras bahkan memaksa apabila tidak ada jalan lain”.
Kalimat berupa “kita diperbolehkan menggunakan cara-cara yang keras bahkan memaksa apabila tidak ada jalan lain” penulis nilai berpretensi menimbulkan kesalahpahaman di diri peserta didik bahkan menjurus ke radikalisasi agama jika tidak diarahkan pemahamannya ke arah yang sesungguhnya. Karena jika membandingkan dengan materi yang disajikan di buku 2 yang lebih banyak mengupas ajakan untuk bersikap sabar dan lemah lembut serta menggunakan metode yang jauh dari kekerasan, maka menurut hemat penulis untuk konteks keindonesiaan ajakan untuk bersikap lemah lembut lah yang harus lebih diutamakan dibanding kekerasan atau pemaksaan. Misalnya di buku 2 dalam halaman 5 disebutkan sebagai berikut:
Nabi mengajarkan bahwa tidak semua kemunkaran harus disikapi dengan kekerasan. Sikap para utusan Allah banyak yang menunjukkan ketegasan dalam beramar makruf nahi munkar. Akibatnya tidak jarang mereka mengalami cobaan yang cukup berat dari sekedar cacian, hinaan bahkan ancaman bagi jiwa mereka. Namun ketegasan itu tidak lantas menjadikan mereka memiliki karakter keras. Mereka tetap bersikap lemah lembut dalam memerangi kemungkaran”.
Di halaman 8 setelah bagian penutup bab di bagian menu “Selingan” juga disisipkan sebuah cerita mengenai metode jawaban (dakwah) yang digunakan Rasulullah ketika ada seorang pemuda yang mendatangi beliau dan meminta izin untuk berbuat zina. Alih-alih marah Rasulullah malah berbalik menanyai pemuda tadi tentang bagaimana pendapatnya jika ada yang ingin berzina dengan ibu pemuda tersebut atau istrinya, anak perempuannya, kakak perempuannya, bibinya dan seterusnya. Menurut penulis ini merupakan ilustrasi menarik tentang bagaimana seharusnya mengajarkan nilai-nilai luhur prinsip dakwah dalam Islam kepada peserta didik.
Aspek Keempat, yakni aspek kesesesuaian bentuk evaluasi materi dengan aspek penilaian kognisi, afeksi dan psikomotorik. Di buku 1 untuk bentuk instrumen penilaian bidang kognisi sudah dianggap terwakili dengan bentuk pilihan soal pilihan ganda dan essay termasuk juga bentuk evaluasi dalam format portofolio. Khusus untuk persoalan afeksi, di buku 1 ini terdapat sebuah bentuk penugasan yang penulis nilai masih membingungkan. Yakni pada halaman 16 di bagian tugas mandiri di mana siswa ditugaskan membuat sebuah tulisan berbentuk cerpen. Sebenarnya bentuk tugas tidak jadi permasalahan berarti, namun yang jadi pertanyaan adalah materi pokok dalam penugasan tersebut yang penulis anggap tidak memiliki nilai edukatif. Di mana di sana disebutkan :
“pernahkah kalian disakiti teman atau guru kalian? Buatlah peristiwa itu menjadi sebuah cerpen dengan mengganti setting kejadian dan pelakunya!”
Adapun buku 2 dalam hal evaluasi di bidang kognisi penulis nilai sudah cukup bagus dan memadai. Terlebih di bagian lain evaluasi tersebut (halaman 12) juga terdapat sejumlah pertanyaan essay yang nampaknya bertujuan untuk menggali kreatifitas berpikir dan keluasan wawasan peserta didik juga memancing afeksi. Misalnya di sana ada contoh pertanyaan sebagai berikut :
  1. Mengapa memaksakan agama kepada orang lain atau orang yang sudah beragama dilarang dalam Islam?
  2. Mengapa integritas seorang dai dibutuhkan?
  3. Mengapa sebuah agama memerlukan dakwah dalam kelangsungan hidupnya?
  4. Jelaskan pengertian dkawah bil hal dan mengapa ia dianggap penting?
  5. Islam sering dianggap sebagai agama pedang, sebab ia sering dianggap menyebarkan agama dengan cara memerangi penduduk yang berlainan agama dengan nya. Bagaimana pendapat kalian tentang hal ini?
  6. Bagaimana pendapat kalian tentang dakwah yang ditempuh melalui lagu-lagu seperti yang dilakukan oleh beberapa penyanyi?
  7. Bagaimana cara berdakwah kepada orang awam dengan orang yang berpendidikan tinggi?
Di samping bentuk evaluasi semacam itu di buku 2 ini juga mengetengahkan contoh penugasan yang cukup menarik terkait aspek kognisi sekaligus mungkin psikomotorik terkait topik dakwah. Misalnya dalam halaman 3 disebutkan:
Perkembangan ilmu pengetahuan teknologi semakin pesat hari-hari ini. Masyarakat juga makin cerdas. Apakah hal ini juga berpengaruh pada model dakwah yang harus dilaksanakan? Bentuklah kelompok diskusi untuk membahas persoalan tersebut. Kalian juga boleh membuat refleksi sendiri atas persoalan tersebut. Perhatikan tayangan sinetron atau tayangan-tayangan di tv yang mengaku religius, apakah hal tersebut dapat dikategorikan sebagai dakwah atau malah sebaliknya? Kalian bisa memilih antara mendiskusikan atau menuliskannya dalam sebuah lembaran makalah. Selamat bekerja!
Di halaman terakhir di bab 1 buku 2 tersebut (di bagian evaluasi) juga disebutkan contoh penugasan yang nampaknya bertujuan untuk lebih memantapkan aspek penanaman nilai afeksi tertentu di diri peserta didik. Ini dapat dilihat dari contoh kasus sebagaimana penulis kutipkan berikut ini :
Zaid tinggal di sebuah daerah yang dikepung tempat pelacuran. Ia tahu bahwa pelacuran merupakan pekerjaan yang dilarang agama. Pengetahuan itulah yang membuat hatinya terusik. Ingin sekali ia memberi pengajaran kepada para pekerja seks itu bahwa pekerjaan mereka haram. Tetapi apa daya, pihak pemerintah setempat telah memberikan izin tempat tersebut dan ia sendiri tidak tahu bagaimana cara agar para pekerja seks komersil tersebut tetap mendapat penghasilan jika mereka tidak bekerja semacam itu. Bagaimana atau apa yang harus dilakukan oleh Zaid dalam posisi tersebut dalam konteks dakwah.”
Demikian lah beberapa hal yang dapat penulis amati dan telaah meski tentu saja hasil telaah ini tidak ilmiah dan bersifat mendalam dalam konteks evaluasi dan pengembangan materi pembelajaran qur’an hadits tingkat madrasah aliyah terkait topik hukum dan metode dakwah untuk siswa kelas XII MA, namun diharapkan tetap berguna bagi upaya pengembangan dan kajian di tahap berikutnya.
Dari hasil telaah dan pengamatan yang penulis lakukan terhadap dua buku ajar qur’an hadits madrasah aliyah kelas XII terkait aspek penyajian materi hadits tentang kewajiban dan metode dakwah, yakni buku bahan ajar qur’an hadits yang ditulis oleh Lilis Fauziah R.A. dan Andi Setiawan berjudul “Kebenaran Al-Qur’an dan Hadits untuk Kelas XII (Berdasarkan Standar Isi MA Tahun 2006)”, penerbit Tiga Serangkai Mandiri Solo terbitan tahun 2007 dan buku kedua yang ditulis oleh Drs. Abd. Haris, M.Ag berjudul “Rahasia Warisan Nabi: Qur’an Hadits untuk MA Kelas XII”, penerbit Pustaka Insan Mandiri Yogyakarta, terbitan tahun 2006 menunjukkan bahwa masing-masing bahan ajar memiliki keunggulan dan kelemahannya masing-masing ditinjau dari beberapa sudut penilaian. Sehingga jika guru hanya berpegang pada satu buku ajar saja maka pengayaan materi ajar sesuai tuntutan dan kebutuhan kurikulum akan menjadi tidak terlaksana, dalam hal ini yang menjadi korban ialah peserta didik. Idealnya seorang guru bisa memadukan dan memperkaya bahan ajar dengan sumber-sumber bacaan yang lain. Namun memang lagi-lagi persoalan ketersediaan fasilitas buku bacaan yang memadai di masing-masing madrasah menjadi dilema dan persoalan tersendiri selain persoalan kompetensi guru bersangkutan dalam mengembangkan bahan ajar yang inspiratif.

[1] Tim Bimtek KTSP Depdiknas, Panduan Pengembangan Bahan Ajar, hlm. 6.
[2] Ibid., hlm. 29-31.

0 komentar:

Poskan Komentar

Tinggalkan Komentar

¾