web 2.0
"INFORRMATIKA SERVICE CENTER" Pusat Informasi & Konsultasi (Melayani Service Komputer, Kursus Teknisi Komputer, Privat/group; 085 742 264 622

Rabu, 15 September 2010

MASALAH-MASALAH PENDIDIKAN DI ERA GLOBALISASI


A.    PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan salah satu faktor yang paling mendasar dalam kehidupan kita karena pendidikan adalah suatu upaya yang dilakukan secara sadar dan terencana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertangung jawab. Pendidikan adalah suatu proses transfer of knowledge (ilmu pengetahuan, teknologi dan seni) yang dilakukan oleh guru/dosen kepada anak didiknya. Selain itu, pendidikan adalah alat untuk merubah cara berpikir kita dari cara berpikir tradisional ke cara berpikir ilmiah (modern).


Upaya pemerintah untuk menangani permasalahan pendidikan di Indonesia pun hingga saat ini masih belum tuntas. Hal itu dibuktikan dengan setiap bergantinya menteri pendidikan, yang selalui diikuti dengan digantinya kurikulum pendidikan. Dari sini tampak bahwa pemerintah masih belum menemukan bentuk pengelolaan pendidikan yang tepat dan masih mencari-cari bentuk yang sesuai dengan masyarakat Indonesia dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan seni. Indonesia masih memikul beban berat dalm dunia pendidikan. Terbukti dari 14 negara di Asia Pasifik, mutu pendidikan dasar Indonesia menduduki urutan ke 10 (UNESCO 2005). Sedangkan bila diberi nilai, nilai Indonesia hanya E, jauh di bawah Cina, Thailand, Filipina, Kaboja, Banglades, dan Vietnam yang memiliki nilai C. Banyak orang bertanya apanya yang salah? Apakah guru, sistem pendidikan, orangtua murid, murid sendiri, atau faktor lainnya ?

Dari latar belakang di atas, penulis menyimpulkan beberapa rumusan masalah sebagai berikut :
  1. Bagaimana pengaruh masuknya benda-benda teknopraktis bagi dunia paedagogi ?
  2. Bagaimana gambaran permasalahan pendidikan yang ada di Negeri ini ?
  3. Sudah siapkah Pendidikan kita dalam menyambut era pasar bebas ?

B.     PEMBAHASAN
a.       Permasalahan Paedagogis Yang Muncul Akibat Masuknya Benda - Benda Teknopraktis Dalam Masyarakat
Tidak dapat dipungkiri bahwa dengan meningkatnya teknologi komunikasi menyebabkan hubungan antar individu semakin dekat, khususnya dengan muncul dan berkembangnya telepon seluler atau handphone. Hubungan antar individu, antar kelompok, antar suku, dan antar bangsa sudah tidak dibatasi oleh dimensi keruangan maupun kewilayahan. Seseorang dapat berkomunikasi dengan yang lain sudah tidak hanya antar kota, antar daerah, tetapi sudah antar negara. Dimanapun seseorang berada dapat kita jangkau dengan handphone. Seolah-olah dunia sudah tanpa batas. Ilmu pengetahuan dimanapun dan kapanpun dapat terakses melalui media ini. Tetapi pada sisi yang lain juga membawa permasalahan tersendiri, diantaranya:
a. Karena ada telepon seluler, terutama terjadi pada masyarakat kelompok menengah ke atas bahwa berkomunikasi yang biasanya dilakukan yaitu bersifat silaturahmi atau anjang sana sedikit demi sedikit akan terkikis. Kebersamaan dalam tatap muka juga berkurang akibatnya kegiatan- kegiatan yang bersifat kebersamaan lambat laun menjadi sirna. Gotong royong, kerja bhakti lambat laun sudah ditinggalkan. Hal ini dapat mengancam rasa persaudaraan, rasa senasip sepenanggungan, sebangsa dan setanah air, persatuan dan kesatuan bangsa. Inilah yang mengancam pendidikan kewarganegaraan
b. Disamping itu membanjirnya benda-benda teknopraktis yang berupa telepon seluler, bila dilihat dari sisi ekonomi, maka benda tersebut tidak mendidik hidup hemat (ekonomis), khususnya bagi lapisan masyarakat menengah ke atas. Masyarakat terdidik untuk hidup lebih konsumtif, terutama karena dengan adanya handphone kita dengan mudah diberi informasi, iklan-iklan yang acapkali menggiurkan bahkan mengalahkan berfikir rasional. Kita terbawa pada arus yang irasional dari segi ekonomi. Kita sering tergiring oleh iklan yang berembel-embel hadiah yang menggiurkan, tetapi kenyataannya menjerumuskan. Tetapi bagi lapisan masyarakat bawah, hadirnya handphone bukan sebagai kebutuhan hidup melainkan sebagai gaya hidup. Fungsi handphone hanya sebagai ukuran status sosial. Alasan beli handphone hanya karena mereka tidak ingin dikelompokkan kedalam kelas pinggiran.
Berkembangnya media massa, baik cetak maupun elektronik misalnya: televisi, radio dan surat kabar dapat menyebabkan kita dapat menerima informasi darimanapun, kapanpun, dan apapun. Informasi-informasi dapat masuk dengan bebas ke rumah, bahkan anakpun dapat mengundangnya sendiri. Informasi dari belahan bumi manapun dapat diakses bahkan aksesnyapun dapat secara langsung. Kejadian-kejadian yang tejadi di manca negara dapat dengan mudah dan segera kita ketahui. Ilmu pengetahuan dan teknologi terbaru juga dapat kita akses dengan mudah. Hal ini akan berpengaruh terhadap perkembangan pendidikan dan kebudayaan kita. Pola hidup kitapun dapat berubah karenanya. Pada sisi yang lain perkembangan media massa baik cetak maupun elektronik dapat membawa dampak yang kurang menguntungkan. Inilah dilema dalam pembelajaran pendewasaan masyarakat. Sebagian besar keluarga di Indonesia masih menempatkan televisi di ruang keluarga. Tetapi juga tidak jarang kita jumpai, televisi sudah masuk ke kamar anak-anak, hal ini biasanya untuk keluarga lapisan masyarakat menengah keatas. Celakalah para orangtua yang menempatkan televisi di kamar anak-anaknya, karena mereka telah meletakkan racun pikiran tepat di jantung sasaran. Salah satu dampak negatif televisi adalah melatih anak untuk berpikir pendek dan bertahan berkonsentrasi dalam waktu yang singkat (short span of attention). Sekarang banyak dijumpai anak-anak yang dicap malas belajar. Anak sering mengeluh capek kalau disuruh belajar. Kurang atau tidak bisa berkonsentrasi. Mungkin mereka bukan malas belajar. Tetapi otak mereka sudah tidak mampu untuk diajak berkonsentrasi menyerap bahan pelajaran dalam jangka waktu lebih lama dari jarak di antara dua spot iklan. Otak mereka tidak terlatih untuk berkonsentrasi, berfikir kritis apalagi kreatif. Inilah akibat pengondisian acara televisi yang cenderung melatih kita pasif.
Televisi begitu dahsyat pengaruhnya, lalu bagaimana dengan komputer? Apakah komputer juga berdampak separah televisi? Sejumlah penelitian bidang teknologi pendidikan menyatakan bahwa komputer memiliki dampak negatif terhadap pendidikan dan perkembangan anak sama banyaknya. Menurut Paul C Saettler dari California State University, Sacramento (dalam Nababan:2002), hasil tersebut muncul karena banyak penelitian membandingkan pendidikan yang konvensional dan yang dibantu teknologi tidak pernah berhasil melakukan perbandingan setara karena banyaknya aspek yang tidak teramati. Satu hal yang pasti, interaksi anak dan komputer yang bersifat satu (orang) menghadap satu (mesin) mengakibatkan anak menjadi tidak cerdas secara sosial. Seperti halnya televisi, meletakkan komputer dengan CD-ROM di dalam kamar anak sama bahayanya. Hal ini selain memungkinkan anak terlalu sibuk bermain game, komputer dengan CD-ROM memungkinkan masuknya tayangan yang tidak terpuji ke kamar anak tanpa sepengetahuan orangtua. Karena anak dapat menayangkan sesuai keinginannya.
Masuknya benda-benda teknopraktis misalnya televisi, VCD ke masyarakat kita khususnya masyarakat pedesaan (lapisan masyarakat bawah) dapat semakin berkurangnya waktu untuk bercerita tentang sejarah, hikayat atau peristiwa-peristiwa yang lain. Ketika televisi belum diproduksi secara massal, di desa-desa baru ada satu atau dua televisi. Masyarakat desa cenderung berkumpul untuk melihat televisi secara bersama-sama. Mereka merasakan bahagia bersama-sama sedihpun bersama-sama. Mereka merasa senasip seperjuangan, merasa satu saudara, satu keluarga. Hal ini berdampak semakin terpupuknya kebersamaan, kekompakan dan persatuan. Tetapi setelah televisi diproduksi secara massal, maka masing-masing keluarga, masing- masing rumah telah memiliki televisi. Bahkan sering kita jumpai dalam satu rumah telah memiliki lebih dari satu televisi. Akibatnya sudah tidak dijumpai lagi masyarakat desa berkumpul, bercengkerama untuk melihat televisi secara bersama-sama. Masyarakat cenderung menghabiskan waktunya di rumah masing-masing. Rasa senasip seperjuangan sudah pudar. Rasa persaudaraan juga pudar. Kebersamaan semakin pudar, masyarakat lebih individualis lambat laun akan mengurangi bahkan menghancurkan persatuan.
Masuknya internet ke lingkungan kita di satu sisi sangat menyenangkan, tetapi disisi lain, internet hadir persoalan barupun hadir. Apalagi yang mengkonsumsi internet adalah anak-anak, dan keluarga yang memiliki lebih dari satu komputer dirumahnya Suatu dilema teknologi tersendiri. Karena dengan adanya internet kita dapat mengakses segala informasi. Informasi tersebut ada yang bersifat positif dan negatif, baik ditinjau dari segi etika, moral, agama, maupun ekonomi. Internet menghadirkan prilaku unsur- unsur budaya yang berupa norma, nilai, benda, moral dan simbol yang tidak jarang tidak sesuai dengan unsur budaya kita. Akibatnya jika kita tidak memiliki filter budaya, kita mudah tertipu untuk segera mengikutinya. Internet juga menghadirkan iklan-iklan, yang sudah barang tentu bertujuan merangsang kita untuk hidup tidak ekonomis[1]
b.       Permasalahan Pendidikan Masa Kini
Mengenai masalah pedidikan,[2] perhatian pemerintah kita masih terasa sangat minim. Gambaran ini tecermin dari beragamnya masalah pendidikan yang makin rumit. Kualitas siswa masih rendah, pengajar kurang profesional, bahkan aturan UU Pendidikan kacau. Dampak dari pendidikan yang buruk itu, negeri kita kedepannya makin terpuruk. Keterpurukan ini dapat juga akibat dari kecilnya rata-rata alokasi anggaran pendidikan baik di tingkat nasional, propinsi, maupun kota dan kabupaten.
Berbicara tentang anggaran pendidikan ini memang sangat dilematis. Dalam kenyataannya, permasalahan utama sebenarnya bukan pada nilai anggaran saja. Hal ini terbukti bahwa meskipun anggaran kita kurang dari angka 20 persen dari APBN. Tetapi dalam hal ini pemerintah berusaha menaikkan anggaran pendidikan dari tahun ke tahun. Pertanyaannya adalah bahwa, apakah kenaikan anggaran itu telah dapat mendongkrak pencapaian hakikat penyelenggaran pendidikan itu sendiri? Belum lagi adanya berbagai penyalahgunaan anggaran pendidikan, mulai dari masih maraknya pungutan liar dari tingkat perguruan tinggi sampai dengan penyelewengan dana BOS.
Penyelesaian masalah pendidikan tidak semestinya dilakukan secara terpisah-pisah, tetapi harus ditempuh langkah atau tindakan yang sifatnya menyeluruh. Artinya, kita tidak hanya memperhatikan kepada kenaikkan angaran saja. Sebab percuma saja, jika kualitas Sumber Daya Manusia dan mutu pendidikan di Indonesia masih rendah. Masalah penyelenggaraan Wajib Belajar Sembilan tahun sejatinya masih menjadi PR besar bagi kita. Kenyataan yang dapat kita lihat bahwa banyak di daerah-daerah pingiran yang tidak memiliki sarana pendidikan yang memadai. Dengan terbengkalainya program wajib belajar sembilan tahun mengakibatkan anak-anak Indonesia masih banyak yang putus sekolah sebelum mereka menyelesaikan wajib belajar sembilan tahun. Dengan kondisi tersebut, bila tidak ada perubahan kebijakan yang signifikan, sulit bagi bangsa ini keluar dari masalah-masalah pendidikan yang ada, apalagi bertahan pada kompetisi di era global.
Ada beberapa masalah utama pendidikan[3] kita saat ini yang perlu dicermati, yaitu rendahnya kualitas SDM pendidikan dan sistem pendidikan yang kita pakai. Banyaknya pelajar Indonesia masih belajar dalam taraf menghafal saja. Dimana hanya berbekal hafalan tidak membuat tambahnya suatu kecerdasan maupun tambahnya kedewasaan seseorang.Untuk mengatasi masalah itu, perlu usaha keras dari pelajar, pangajar, dan pemerintah sebagai pemegang berwenang dan mengelola dana. Bagaimana agar pelajar dapat mengembangkan potensi yang dimiliki para anak didik melalui kendali dan kontrol dari guru. Sedangkan pemerintah sebagai penyedia sarana dan prasarana ada upaya agar tercukupi. Dengan buruknya sarana dan prasarana pendidikan dan kurikulum yang kurang efektif. Semua itu berasal dari hal yang terpisah-pisah, yaitu sistem pendidikan dan taraf kemampuan SDM pendidikan.Untuk meningkatkan alokasi dana pendidikan yang memadai dengan meletakkan pembangunan pendidikan sebagai perioritas pertama.
Selain itu dengan meningkatkan kesejahteraan dan penghargaan terhadap peran guru sebagai pilar utama pendidikan dan pembangunan bangsa. Posisi guru dan pendidik harus dihargai sebagai profesi yang mulia. Namun, peningkatan kesejahteraan guru ini tidak hanya meningkatkan gaji saja, melainkan pada saat yang sama mutu pendidikan harus lebih meningkat. Tanggung jawab sejauh mana kontrol guru terhadap murid, terhadap proses belajar mengajar. Apakah anak didik telah mampu menerima materi yang disampaikan hingga dapat bermanfaat sebagai bekal hidup dan matinya. Karena itu, sistem penggajian harus dikaitkan dengan peningkatan kinerja dan kepribadian pengajar
c.       Pendidikan dalam Menghadapi Pasar Bebas
Perkembangan dunia pendidikan di Indo-nesia tidak dapat dilepaskan dari pengaruh perkembangan global,[4] di mana ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat. Era pasar bebas juga merupakan tantangan bagi dunia pendidikan Indonesia, karena terbuka peluang lembaga pendidikan dan tenaga pendidik dari mancanegara masuk ke Indonesia. Untuk menghadapi pasar global maka kebijakan pendidikan nasional harus dapat meningkatkan mutu pendidikan, baik akademik maupun non-akademik, dan memperbaiki manajemen pendidikan agar lebih produktif dan efisien serta memberikan akses seluas-luasnya bagi masyarakat untuk mendapatkan pendidikan.
Peristiwa seorang siswa sekolah dasar mencoba bunuh diri karena orang tua tidak mampu membiayai pendidikannya, merupakan bukti bahwa pendidikan di Indonesia belum menyentuh semua lapisan masyarakat. Kenapa hal itu terjadi? Padahal anak usia tujuh sampai lima belas tahun seharusnya mendapatkan pendidikan dasar secara gratis, karena Pasal 11 Ayat 2 UU Sisdiknas menyatakan "Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib menjamin tersedianya dana guna terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun".
Upaya memperbaiki kondisi pendidikan di Indonesia sebenarnya juga telah ditempuh dengan lahirnya UU No. 22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah, yang menyatakan bahwa wewenang terbesar bidang pendidikan ada di tangan pemerintah daerah, baik yang menyangkut bubget maupun kebijakan yang bersifat strategis di bidang kurikulum. Namun dalam pelaksanaannya, ternyata di beberapa daerah mendapat kendala, karena kurangnya ketersediaan anggaran pendidikan, padahal berdasarkan Pasal 31 Ayat 4 UUD 1945 dan Pasal 49 UU Sisdiknas, anggaran pendidikan minimal 20% dari APBD. Kendala lain yang dihadapi sebagian pemerintah daerah adalah karena tidak tercukupinya kebutuhan tenaga pendidik dan untuk mengangkat PNS baru membutuhkan anggaran yang cukup besar pula.
Selain pemerintah, penyelenggaraan pendidikan di Indonesia juga menjaditanggung jawab dari masyarakat, untuk itu Menteri Pendidikan Nasional mengeluarkan surat keputusan Nomor: 044/U/2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. Tujuan dari pembentukan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah adalah untuk mengkoordinasikan keterlibatan masyarakat sekitar sekolah, dalam membantu mengawasi dan membina pelaksanaan pendidikan karena anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN dan APBD, kemungkinan tidak akan dapat mencukupi untuk pembentukan sumber daya manusia Indonesia yang dapat bersaing di era globalisasi.
Pada saat ini, sangat sedikit sekali pelajar Indonesia dari tingkat SD
hingga SMA yang mempunyai tingkat kemampuan global tinggi, hal tersebut dibuktikan dengan hanya sekitar 1-2% pelajar lulusan SMA yang dapat diterima di perguruan tinggi di Singapura. Kondisi tersebut disebabkan karena institusi sekolah yang ada di Indonesia memang sangat sedikit yang siap berkompetisi di era globalisasi, untuk itu, maka peran dewan pendidikan dan komite sekolah harus ditingkatkan agar fasilitas-fasilitas pendidikan lebih lengkap dan jumlah tenaga pendidik yang berkemampuan global, juga lebih banyak.
Mengungkap permasalahan pendidikan di Indonesia memang tidak ada habisnya, setelah bagaimana mengatasi agar penyelenggaraan pendidikan dapat berjalan dengan baik, masih ada lagi permasalahan bagaimana agar out put pendidikan juga mampu bersaing dalam pasar kerja global, karena saat ini Indonesia terkesan hanyalah pengekspor tenaga kerja "lower class". Dan agar pendidikan di Indonesia tidak hanya melahirkan jumlah pengangguran terdidik yang semakin banyak, maka pembangunan pendidikan harus pula didukung dengan analisis kebutuhan ekonomi dan tenaga kerja. Out put pendidikan yang baik tidak akan terbatasi dengan lapangan kerja yang ada di Indonesia, tapi akan mampu menciptakan lapangan kerja dan atau bersaing di pasar kerja global yang memang terbuka luas apabila memiliki kemampuan.
Pendidikan pada dasarnya merupakan upaya dari manusia untuk dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan dalam rangka memenuhi kelangsungan hidupnya, yang tidak akan dapat berarti apabila tidak disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi yang ada. Era pasar bebas memungkinkan masuknya lembaga pendidikan dan tenaga pendidik yang mempunyai kemampuan internasional ke Indonesia, untuk itu, kemampuan bersaing lembaga pendidikan dan tenaga pendidik harus ditingkatkan. Dalam upaya meningkatkan kualitas para tenaga pendidik, perlujuga sekaligus memberikan perlindungan profesi pada mereka dalam bentuk program lisensi, bagi semua pendidik dan mereka yang ingin meniti karier sebagai pendidik. Program lisensi tersebut diperlukan untuk memberikan jaminan mutu pendidikan yang akan diberikan agar sesuai dengan standar nasional, misalnya dengan kriteria minimal harus menguasai segala aspek standar kompetensi guru. Dan bagi warga negara asing yang akan menjadi tenaga pendidik di wilayah republik Indonesia, selain harus menguasai standar kompetensi guru juga diwajibkan menguasai bahasa Indonesia.
Apabila permasalah pendidikan tidak segera diatasi, maka upaya pemerintah untuk menyelesaikan program pendidikan dasar pada tahun 2008 sulit untuk dapat dicapai dan sumber daya manusia Indonesia akan semakin tertinggal dengan bangsa lain, meskipun hanya untuk merebut lapangan kerja di negara sendiri. Globalisasi dan pasar bebas memang suatu kenyataan, sehingga perlu kita antisipasi agar jangan sampai terulang kembali "penjajahan" walau itu dalam bentuk tenaga kerja, karena akan merugikan kita semua
C.     PENUTUP
  1. Simpulan
Pendidikan adalah suatu proses transfer of knowledge (ilmu pengetahuan, teknologi dan seni) yang dilakukan oleh guru/dosen kepada anak didiknya. Selain itu, pendidikan adalah alat untuk merubah cara berpikir kita dari cara berpikir tradisional ke cara berpikir ilmiah (modern).
Upaya pemerintah untuk menangani permasalahan pendidikan di Indonesia pun hingga saat ini masih belum tuntas. Hal itu dibuktikan dengan setiap bergantinya menteri pendidikan, yang selalui diikuti dengan digantinya kurikulum pendidikan
Dari sini tampak bahwa pemerintah masih belum menemukan bentuk pengelolaan pendidikan yang tepat dan masih mencari-cari bentuk yang sesuai dengan masyarakat Indonesia dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan seni
Ada beberapa masalah utama pendidikan kita saat ini yang perlu dicermati, yaitu rendahnya kualitas SDM pendidikan dan sistem pendidikan yang kita pakai. Banyaknya pelajar Indonesia masih belajar dalam taraf menghafal saja

  1. Saran
Demikian makalah yang penulis susun, kiranya banyak kekurangan dan kesalahan baik dalam penyusunan kalimat atau yang lainnya. Semoga dengan adanya ketidak sempurnaan itu menjadikan referensi bagi langkah kedepan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.





DAFTAR PUSTAKA

Suparlan Suhartono, 2008, Wawasan Pendidikan, Jogjakarta : Arus Media

HAR. Tilaar, 2004, Paradigma Baru Pendidikan Nasional, Jakarta : Rineka cipta, cet II,

Wulan Agustin Herdiana, 2007, Permasalahan Pendidikan Sekarang Ini, diajikan dalam bentuk artikel
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0402/20/opi01.html Pendidikan Indonesia Menyambut Era Pasar Bebas











TANTANGAN PEMERATAAN PENDIDIKAN
KETERISOLASIAN/KETERPENCILAN
KEMISKINAN(EKONOMI)
BUDAYA(SUBSISTEN)
PRASARANA PENDIDIKAN
RENDAHNYA SDM GURU
ERA GLOBALISASI
Dalam era globalisasi ini, arus globalisasi membawa berbagai pengaruh global yang tidak bisa dibendung oleh siapa saja. Secara ekonomis globalisasi semakin memperketat kompetisi dalam berbagai bidang usaha. Dengan demikian yang diutamakan dalam persaingan yang ketat seperti ini adalah kualitas SDM



[1] Suparlan Suhartono, 2008, Wawasan Pendidikan, Jogjakarta : Arus Media, hal 59-66
[2]  HAR. Tilaar, 2004, Paradigma Baru Pendidikan Nasional, Jakarta : Rineka cipta, cet II, hal, 15-42
[3] Wulan Agustin Herdiana, 2007, Permasalahan Pendidikan Sekarang Ini, diajikan dalam bentuk artikel
[4] http://www.sinarharapan.co.id/berita/0402/20/opi01.html Pendidikan Indonesia Menyambut Era Pasar Bebas

0 komentar:

Poskan Komentar

Tinggalkan Komentar

¾