web 2.0
"INFORRMATIKA SERVICE CENTER" Pusat Informasi & Konsultasi (Melayani Service Komputer, Kursus Teknisi Komputer, Privat/group; 085 742 264 622

Rabu, 01 September 2010

MODEL PENGEMBANGAN SISTEM INTRUKSIONAL

A. MODEL PENGEMBANGAN SISTEM INTRUKSIONAL
Pengembangan sistem intruksional ialah proses menciptakan situasi dan kondisi tertentu yang memungkinkan siswa berinteraksi sehingga terjadi perubahan perilaku pengembangan sistem ini memerlukan pemantauan interaksi siswa. Pengembangan senantiasa didasarkan pada pengalaman. Pengamatan yang sesama dan percobaan yang terkendali.


Ada dua proses pengembangan, pertama ialah pendekatan secara empiris yang menggunakan dasar-dasar teori, bahan pengajaran disusun berdasarkan pengalaman pengembang. Pendekatan kedua ialah dengan pendekatan model. Dalam penyusunan rancangan pengajaran ada langkah-langkah secara sistem : cara mencapainya dipilihkan cara-cara tertentu, kondisi tertentu, dan perubahan tertentu. Hasil uji coba memberi informasi tertentu yang dapat dijadikan bahan penilaian perihal tingkat kesulitan suatu program.
Model ialah seperangkat prosedur yang berurutan untuk mewujudkan suatu proses melaksanakan pengembangan sistem pengajaran seperti penentuan suatu kebutuhan.
Ada beberapa model pengembangan intruksional :
1. Model Bella Banathy
Model ini ada 6 langkah :
1.Merumuskan tujuan
2.Mengembangkan test
3.Menganalisis kegiatan belajar
4.Mendesain sistem intruksioanal
5.Melaksanakan kegiatan dan mengetes hasil
6.Mengadakan perbaikan
2. Model Kemp
Langkah-langkahnya :
1. Penetuan Tujuan Intruksional Umum (TIU)
2. Menganalisis Karakteristik siswa
3. Menentukan Tujuan Itruksioanal Khusus (TIK)
4. Mnenetukan materi pelajaran yang sesuai dengan TIK yang ditetapkan
5. Mengadakan penjajakan awal
6. Menentukan starategi belajar yang relevan : Efisiensi, keefektifan, ekonomis, kepraktisan
7. Mengkoordinasikan sarana penunjang yang dibutuhkan : Biaya, fasilitas, peralatan, waktu dan tenaga.
8. Mengadakan evaluasi
3. Model IDI (Intruksional Development Institute)
Langkah-langkahnya :
1. Pembatasan : Ada 3 hal yang perlu dipertimbangkan : Karakteristik Siswa, Kondisi, Sumber-sumber yang relevan
2. Pengembangan : Tujuan yang hendak dicapai, TIK merupakan penjabaran yang lebih rinci dibandingkan dengan TIU. Ini karena TIK : Dapat memehami secara jelas, Building block dari pengajaran yang diberikan, sebagai penenda tingkah laku yang harus diperhatikan
3. Penilaian.
4. Model PPSI
Langkah-langkahnya :
1. Perumusan Tujuan, ialah tujuan yang berbentuk tingkah laku atau kemampuan yang diharapkan dapat dimiliki siswa setelah proses belajar mengajar. Disini ada dua tujuan TIU dan TIK.
2. Menyusun alat evaluasi
3. Menentukan kegiatan belajar dan materi
4. Menetapkan program kegiatan
5. melaksanakan program
B. PRINSIP-PRINSIP PENGAJARAN
Konsep Belajar dan Mengajar, belajar mempunyai pengertian menurut psikologis adalah proses perubahan atau usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku atau penampilan yang baru secara keseluruhan. Mengajar adalah suatu aktifitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkan anak.
Menurut Bloom status abilitas ada 3 :
a. kognitif Domain : Knowledge, Conprehension, Analysis, Synthesis, Evaluation, application.
b. Affektive Domain : Receiving, Responding, Valving, Organization, Characteriszation.
c. Psychomotor Domain : Initiatori Level, Pre-routine Level, Rountizet Level.
Tujuan belajar ada 3 : Untuk mendapatkan pengetahuan, Peranan konsep dan keterampilan, pembentukan sikap.
Jenis-jenis Proses belajar
1.Belajar bagian (part learning, fractioned learning)
2.Belajar dengan wawasan
3.Belajar diskriminatif
4.Belajar global
5.Belajar insedental
6.Belajar instrumental
7.Belajar intensional
8.Belajar laten
9.Belajar Mental
10. Belajar produktif
11. Belajar verbal
Adapun hasil pengajaran itu dikatakan baik, bila proses tersebut dapat membangkitkan kegiatan belajar yang efektif. Dan juga punya ciri-ciri :
a.Hasil itu bertahan lama dapat digunakan oleh siswa dalam kehidupannya.
b.Hasil itu merupakan pengetahuan asli/otentik.
Belajar pada hakikatnya menyangkut potensi manusia dan kelakuannya, memerlukan proses dan pentahapan serta kematangan diri pada siswa, belajar itu proses kontinyu, belajar akan lebih mantap dan efektif bila didorong oleh motivasi terutama motivasi dari dalam, belajar adalah proses organisasi, adaftasi, eksplorasi, dan discovery, belajar memerlukan sarana yang cukup, sehingga siswa dapat belajar dengan tenang, belajar perlu interaksi siswa dengan lingkungannya. Dalam banyak hal belajar merupakan proses percobaan dan conditioning atau pembiasaan.
C. Satuan Pelajaran
Satuan pelajaran adalah rencana pelajaran yang meliputi periode pengajaran yang melebihi satu pelajaran; biasanya satu minggu atau lebih. Kompetensi yang diharus dimiliki atau dikuasai oleh siswa tersebut berupa tujuan yang termasuk kawasan kognitif, affektif, dan psikomotor.
Hubungan Prosedur Pengembangan Sistem Intruksional) adalah suatu cara atau langkah-langkah yang harus ditempuh didalam mengembangkan program pengajaran. Dan Satpel adalah program pengajaran itu sendiri. Satpel terdiri dari beberapa komponen :
· Merumuskan tujuan intruksional khusus
· Mengembangkan alat penilaian
· Menetapkan kegiatan belajar/materi pelajaran
· Merencanakan program kegiatan
· Pelaksanaan program di kelas setelah terbentuk suatu satuan pelajaran.
Kerangka Satpel terdiri dari :
v Merupakan bagian-bagian yang menunjukkan ciri-ciri atau pengenalan (identitas) dari Satpel, yang meliputi : nomor satuan pelajaran, bidang studi, sub bidang studi, satuan bahasan, kelas, caturwulan, waktu, banyaknya/jumlah pertemuan.
v Komponen-komponen yang membentuk satuan pelajaran sebagai suatu sistem : Tujuan Intruksional Khusus, kegiatan belajar mengajar, penilaian.
Tujuan Intruksional Umum diambil dari rumusan GBPP yang dipakai guru sebagai pedoman mengajar. Sedangkan rumusan TIK merupakan penjabaran dari TIU.
Dalam penyusunan TIK perlu diperhatikan agar terbentuk keseimbangan antara aspek ingatan, pemahaman, dan aplikasi. Bahkan TIK dititik beratkan pada pemahaman aplikasi/keterampilan.
Contoh satpel yang dikembangkan dari program alokasi waktu dengan pola 6 komponen
SATUAN PELAJARAN
Nomor : 1
1. Bidang studi : Pendidikan Agama Islam
2. Satuan bahasan : 1.1 Bimbingan Shalat lima waktu
(Arti dan nama-nama shalat lima waktu)
3. Kelas : III (Tiga)
4. Cawu : 1 (satu)
5. Waktu : 2 x 40 menit
6. Pertemuan : 1x pertemuan
I. TUJUAN INTRUKSIONAL UMUM (TIU)
1. Siswa mampu mempraktekkan gerakan dan bacaan shalat serta mengetahui ketentuan-ketentuannya melalui pengamatan,penerapan, klasifikasi, dan komunikasi.
II. TUJUAN INTRUKSIONAL KHUSUS (TIK)
1. Setelah mendengar penjelasan dari guru murid dapat menyebutkan arti shalat fardhu.
2. Setelah mendapat informasi dan pengarahan guru, melalui kerjasama kelompok, murid dapat :
  1. Menuliskan nama-nama shalat lima waktu secara berurutan.
  2. Melukiskan shalat lima waktu secara berurutan dengan menggunakan gambar jam.
  3. Menghitung banyaknya rakaat pada setiap shalat lima waktu.
III. MATERI PELAJARAN
Bimibingan shalat lima waktu:
*Arti shalat lima waktu
*Nama-nama shalat lima waktu
*Waktu-waktu shalat lima waktu
*Rakaat-rakaat shalat lima waktu
IV. KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR
1. Pendekatan dan methode
a) Pendekatan : keterampilan proses
b) Metde : - Tanya jawab
- Penugasan
c) Strategi : CBSA
2. Pokok-pokok kegiatan (langkah-langkah pelaksanaan)
a. 15 menit :
§ Mengingat kembali pelajaran kelas I dan II tentang hafalan-hafalan surat al Qur’an dan wudhu dalam kaitannya dengan shalat melalui tanya jawab.
§ Melalui tanya jawab murid mendengarkan keterangan guru tentang arti shalat fardhu.
§ Murid mendengarkan informasi dan pengarahan guru mengenai pengerjaan lembar kerjaan.
b. 25 menit :
  • Murid mengerjakan tugas dengan acuan lembar kerja dalam kelompk-kelompok kecil
  • Mengumpulkan hasil tugas kelompok.
c. 25 menit :
  • Kelompok dengan kelompok melalui juru bicara masing-masing dan saling tukar info mengenai temuannya.
  • Mulai tanya jawab,guru membimbing sehingga menemukan dan menyimpulkan hasil belajar yang diharapkan.
  • Murid mencatat,memperbaiki dan atau memantapkan hasilnya.
d. 15 menit :
  • Murid mencatat kesimpulan yang benar setelah menjawab tes lisan maupun tulisan
  • Murid mencatat/menyalin lembar tugas rumah untuk umpan balik.
3. Lembar kerja dan lembar tugas rumah untuk umpan balik.
V. ALAT/SUMBER PELAJARAN
1. Alat : lima buah jam tiruan untuk menunjukkan waktu.
2. Sumber : Buku PAI SD, jilid 3a, Drs. Syarief Ali cs, Erlangga, Jakarta, 1990, hal I
Buku PAI SD, jilid 3a, Tarmizi S, dkk. La Tansa, Jakarta, 1989, hal I
VI. PENILAIAN
1. Prosedur, tes awal ,tes akhir, lembar pengamatan
2. soal dan lembar pengamatan terlampir.
  1. Karakteristik PAI
Ciri-ciri umum pendidikan agama islam : tujuan Pendidikan Agama Islam yaitu menghambakan diri kepada Allah untuk keridhaan-Nya. Sumber pokok dan kandungannya adalah al Qur’an dan al Hadist. Kandungannya : mengandung hukum halal dan haram, suruhan dan perintah yang mesti atau yang dianjurkan. Bersangkutan dengan akidah atau kepercayaan, bersangkutan dengan cerita-cerita zaman dahulu. Kebudayaan islam dan ajaran islam. Sifat-sifat pengajaran agama islam yang meliputi pengetahuan agama islam dan sejarah islam.
Unsur strategi pengembangan agama islam : konsep agama islam yang luas, panggila islam sebagai tugas suci, berpusat pada tauhid, berpangkal pada pengendalian diri. Nilai-nilai pengajaran agama islam : nilai material,formal, fungsional, essensial. Ciri-ciri khusus pendidikan agama islam : landasan, arti dan tujuan pendidikan agama islam yaitu UU No 2 Tahun 1989. pendidikan agama islam di Sekolah Dasar adalah GBPP, pendidikan agama islam di madrasah Ibtidaiyah SK meneg No 99 tahun 1984. Kriiteria isi bahan pengajaran, sumber-sumber bahan pengajaran dan penerapan pendekatan keteramplan proses.
>>>>>oo00oo<<<<<

0 komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan Komentar

free counters

¾