web 2.0
"INFORRMATIKA SERVICE CENTER" Pusat Informasi & Konsultasi (Melayani Service Komputer, Kursus Teknisi Komputer, Privat/group; 085 742 264 622

Rabu, 01 September 2010

ILMU PENDIDIKAN ISLAM

I. PENDAHULUAN

A.     LATAR BELAKANG
             Didalam setiap pendidikan formal kurikulum adalah bagian yang    sangat  penting. Karena kegiatan utama pendidilkan adalah dalam rangka melaksanakan kurikulum yang telah ditetapkan. Disamping itu, kurikulum juga berfungsi untuk menjabarkan idealisme, cita-cita pendidikan kedalam langkah-langkah nyata yang akan menjadi pedoman untuk melaksanakan proses pendidikan.
Dengan kata lain, kurikulum merupakan salah satu komponen dalam dunia pendidikan, dan merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan dan sekaligus sebagai pedoman dalam pelaksanaan pengajaran pada setiap jenis pendidikan. Untuk itu boleh dikatakan bahwa pendidikan identik dengan kurikulum, dan kurikulum harus bisa menjawab tantangan zaman yang semakin pelik di era sekarang ini.
Unruk menjawab tantangan zaman tersebut tersebut, maka diperlukan kurikulum yang harus selalu berkembang yang sesuai dengan kebuthan di era sekarang ini, yaitu dengan pembaharuan-pembaharuan kurikulum oleh pemerintah guna tercapainya efektifitas penggunaan kurikulum yang sesuai dengan tujuan pendidikan.


Dan untuk melaksanaan pembaharuan  tersebut, maka diperlukan yang dijadikan pedoman untuk setiap pengembangan kurikulum.


B.   RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang diatas, penulis dapat merumuskan beberapa rumusan masalah, yaitu:
1.      Apa pengertian kurikulum?
2.      Bagaimana pengembangan kurikulum PAI?
3.      Apa fungsi kurikulum PAI?

II. PEMBAHASAN
A.  Pengertian Kurikulum
1. Secara Etimologi
            Secara etimologi kurikulum berasal dari bahasa yunani, yaitu “curir” yang artinya pelari dan “curare” yang artinya tempat berpacu. Dari istilah kurikulum diambil dari dunia olahraga pada zaman Romawi kuno di Yunani yang berarti suatu jarakyang harus ditempuh oleh pelari dari garis start sampai garis finish.[1]
            Sedangkan dalam bahasa Arab, kata kurikuum disebut dengan manhajyang berarti jalan terang yang dilalui manusia pada berbagai bidang  kehidupan. Sedangkan kurikulum pendidikan (manhaj ad-dirasah) dalam kamus tarbiyahadalah seperangkat perencanaan dan media yang dijadikan acuan oleh lembaga pendidikan dalam mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan.[2]
2.      Secara Terminologi
Para ahli telah banyak mendefinisikan kurikulum diantaranya:
a.       Corow dan Crow
Kurikulum adalah rancangan pengajaran atau sejumlah mata pelajaran yang disusun secara sistematis untuk menyelesaikan suatu program untuk memperoleh ijazah.[3]
b.       M.Arifin
Kurikulum adalah seluruh bahan pelajaran yang harus disajikan dalam proses kependidikan dalam suatu  system institusional pendidikan.[4]
c.       Zakiah Drajat
Kurikulum adalah suatu program yang direncanakan dalam bidang pendidikan dan dilaksanakan untuk mencapai sejumlah tujuan pendidikan tertentu.[5]
d.      Dr. Addamardasyi Sarhan dan Dr. Munir Kamir
Kurikulum adalah sejumlah pengalaman pendidikan, kebudayaan, social, olahraga, kesenian  oleh sekolah untuk siswanya guna merubah mereka secara menyeluruh sesuai dengan tujuan pendidikan.[6]
            Dengan demikian pengertian kurikulum dalam pandangan modern merupakan program pendidikan yang disediakan oleh sekolah yang tidak hanya sebatas bidang study dan kegiatan belajar saja, akan tetapi meliputi segala sesuatu yang dapat mempengaruhi perkembangan dan pembentukan pribadi siswa sesuai dengan tujuanpendidikan yang diharapkan, sehingga dapat meningkatkan mutu kehidupannya yang pelaksanaannya bukan hanya disekolah tetapi juga diluar sekolah.
            Jika diaplikasikan dalam kurikulum pendidikan Islam, maka kurikulum berfungsisebagai pedoman yang digunakan oleh pendidik untuk membimbing peserta didiknya kearah tujuan tertinggi  pendidikan Islam, melalui akumulasi sejumlah pengetahuan, ketrampilan dan sikap
Dalam hal ini proses pendidikan Islam bukanlah suatu proses yang dapat dilakukan secara serampangan, tetapi hendaknya mengacu kepada konseptualisasi manusia paripurna (insan kamil) yang strateginya telah tersusun secara sistematis dalam kurikulum pendidikan Islam.[7]

B.  Macam-macam kurikulum
            Dalam pendidikan agama Islam ada dua macam kurikulum yaitu:
1.      Kurikukum Khusus
Kuriulum khusus yaitu untuk pengajaran permulaan (dasar). Secara umum  telah dikenal diseluruh negara Islam bahwa ajaran Al-Qur’an dan Hadits Nabi merupakan dua materi pelajaran pokok, namun di negeri-negeri Islam tidak sama dalam memprogramkan kedua materi pokoktersebut kedalam kurikulum, karena disesuaikan situasi dan kondisi suatu Negara , yang pada umumnya berbeda-beda madzhab dan pandangan suatu Negara tersebut.
Tentang  penyebutan nama kurikulum tingkat dasar (ibtida’) didasarkan atas dimulainya pendidikan yerhadap anak-anak yang sedang  bertumbuh, lalu berproses kearah tingkat usia murahaqah (usia dimana anak telah mampu berfikir). Kurikulum ini meliputi  pendidikan bagi tingkat kanak-kanak dan murahaqah.[8]

2.      Kurikulum Tingkat Atas
Yaitu berisi ilmu pengetahuan yang banyak jenisnya untuk dikembangkan dan  didalami secara khusus.
Ibnu khaldun membagi jenis-jenis ilmu pengetahuan menjadi dua jenis, yaitu:
    1. Ilmu pengetahuan yang mengandung nilai intrinsic (nilai aslinya). Ilmu ini berupa ilmu syari’ah yang terdiri dari ilmu fiqh, tafsir, hadits, ilmu kalam, ilmu alam, ilmu ketuhanan, filsafat, dan sebagainya.
    2. Ilmu pengetahuan yang tidak bersifat intrinsic (ekstrinsik) _yang nilainya tergantung dari luar_ Ilmu-ilmu yang berfungsi sebagai alat untuk mendalami ilmu-ilmu tersebut diatas seperti Bahasa Arab, Ilmu hitung, dan ilmu logika (mantiq).
Dalam hal ini para ahli fakir dan ahli pendidikan nerpendapat bahwa memperluas pengajaran ilmu-ilmu jenis pertama sampai pada penganalisaan, problem-problemnya, dan merupakan kewajiban mutlak bagi mereka agar ilmu-ilmu tersebut betul-betul berfungsi dikalangan masyarakat luas.

            Pengembangan Kurikuilum PAI
            Dari beberapa definisi tentang kurikulum tersebut, maka dapat dipahami bahwa pengembangan kurikulum PAI dapat diartikan sebagai:
1.      Kegiatan menghasilkan kurikulum
2.      Proses yang mengaitkan satu komponen dengan yang lainnya untik menghasilkan kurikulum PAI yang lebih baik.
3.      Kegiatan penyusunan (desain), pelaksanaan, penilaian, dan penyempurnaan kurikulum PAI.
Dalam relitas sejarahnya, pengembangan kurikulum PAI tersebut ternyata mengalami perubahan-perubahan paradigma, diantaranya:
1.      Perubahan dari tekanan hafalan, daya ingat serta disiplin mental spriritual.
2.      Perubahan cara berfikir tekstual, normative, dan absolutis dalam memahami dan menjelaskan ajaran-ajaran dan nilai-nilai agama Islam.
3.      Perubahan dari tekanan pada hasil pemikiran keagamaan Islam.
4.      Perubahan dari pola pengembangan PAI dalam memilih dan menyusun isi kurikulum PAI untuk mengidentifikasi tujuan PAI dan cara-cara mencapainya.[9]
Adapun menurut pandangan Islam, kurikulum pendidikan islam didasarkan pada Al-Quran dan hadist sebagai sumber utama dalam kurikulum pendidikan islam. Dan apabila dirinci lebih lanjut, pengembangan kurikulum pendidikan islam itu didasarkan pada :
a.       Tauhid
Yaitu keyakinan yang menyeluruh dalam dimensi kehidupan manusia baik hubungan vertikal Alloh maupun hubungan horizontal dengan manusia dan alam. Tauhid inilah yang dapat menyusun pergaulan yang harmonis sesame.
Dengan ketauhidan kita dapat mewujudkan taat dunia yang harmonis yang penuh tujuan, persamaan sosial, persamaan kepercayaan, persamaan jenis dan ras, persamaan dalam segala aktivitas dan kebenaran bahkan seliuruh masyarakat dunia adalah sama yang disebut “ummatan wahidah”

b.      Perintah membaca
Pengembangan kurikulum pendidikan islam yang didasarkan pada membaca adalah didasarkan pada surat Al-Alaq ayat 1-5.[10]
ù&tø%$# ÉOó$$Î/ y7În/u Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ ù&tø%$# y7š/uur ãPtø.F{$# ÇÌÈ Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷ètƒ ÇÎÈ
1.  Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2.  Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3.  Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4.  Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam[1589],
5.  Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
[1589]  Maksudnya: Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca.
            Berdasarkan ayat inilah yang memotivasi kita untuk mengeksploirasi  alam sekitarnya dengan membaca dan menulis yang pada hakikatnya Allahlah yang telah mengajarkan ilmu pengetahuan yang dibutuhkan oleh manusia.[11]

C. Fungsi Kurikulum PAI
1.    Bagi Sekolah/Madrasah yang bersangkutan
a.    Sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan agama Islam yang diinginkan atau dalam istilah KBK disebut standard kompetensi PAI, meliputi fungsi dan tujuan pendidikan nasional, kompetensi lintas kurikulum, kompetensi tamatan/lulusan, kompetensi bahan kajian PAI, kompetensi mata pelajaran PAI (TK, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA), kompetensi mata pelajaran kelas (kelas I, II, III, IV, V, VI dan seterusnya)
b.   Pedoman untuk mengatur kegiatan-kegiatan pendidikan agama Islam disekolah/madrasah
2.    Bagi sekolah/madrasah diatasnya:
a. Melakukan penyesuaian
b. Menghindari keterulangan sehingga boros waktu
c. Menjaga kesinambungan

D. Komponen Kurikulum
            Mengingat bahwa fungsi kurikulum dalam proses pendidikan salah satu diantaranya adalah sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan, maka kurikulum memiliki bagian-bagian penting dan penunjang operasi yang baik, yang disebut komponen yang berkaitan dalam mencapai tujuan.
            Keempat pengembangan kurikulum itu meliputi:
a.    Tujuan yang ingin dicapai, yang meliputi:
1.      Tujuan akhir
2.      Tujuan umum
3.      Tujuan khusus
4.      Tujuan sementara
Didalam KBK seorang pendidik harus dapat merumuskan kompetensi yang dicapai:
1.      Kompetensi lulusan
2.      Kompetensi lintas kurikulum
3.      Kompetensi mata pelajaran
4.      Kompetensi dasar [12]
Setiap tujuan minimal ada tiga domain yaitu:
1.      Kognitif
2.      Afektif
3.      Psikomotor
Setiap tujuan tidak tercapai dengan baik jika salah satu kemampuan diatas terabaikan. Bahkan dalam pendidikan Islam domain afektif (sikap beragama) lebih utanma dari yang lainnya.
b.      Isi Kurikulum
Berupa materi pembelajaran yang deprogram untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Materi tersebut disusun dalam silabus, dan dalam mengaplikasikannya dicantumkan pula dalam satuan pembelajaran. Setiap materi tersebut harus jelas scope dan squencennya.
c.    Media ( sarana dan prasarana )
Media sebagai sarana perantara dalam pembelajaran untuk menjabarkan isi kurikulum agar lebih mudah dipahami oleh peserta didik. Media tersebut berupa benda ( materi ) dan bukan benda ( non materi ).
d.   Strategi
Strategi merujuk pada pendekatan dan metode serta teknik mengajar yang digunakan.
Dalam strategi termasuk juga komponen penunjang lainya seperti :
1.      Sistem administrasi
2.      Pelayanan
3.      Remedial
4.      Pengayaan, dsb.
e.       Proses Pembelajaran
Proses ini dituntut sarana pembelajaran yang kondusif, sehingga mendorong kreativitas peserta didik dengan bantuan pendidik.
f.       Evaluasi
Dengan evaluasi ( penilaian ) dapat diketahui cara pencapaian tujuan.[13]
Sedangkan dasar penyusunan kurikulum pendidikan islam adalah :
1.      Dasar Agama
Segala system dalam masyarakat termasuk pendidikan, harus meletakkan dasar falsafah, dasar dan tujuan kurikulumnya ada pada dasar agama islam dengan segala aspeknya, yang harus didasarkan pada Al-Qur’an, Al-Sunnah dan sumber-sumber yang bersifat furu’ lainya.
2.      Dasar Falsafah
Dasar ini memberikan pedoman bagi tujuan islam secara filosofis sehingga tujuan, isi dan organisasi kurikulum mengandung suatu kebenaran dan pandangan hidup sebagai nilai-nilai dan yang di yakini sekaligus kebenaran, ditimjau dari segi ontology, epistomologi, maupun axsiologi.
3.      Dasar Psikologis
Dalam rumusan kurikulum yang sejalan dengan cirri-ciri perkembangan psikis peserta didik, sesuai dengan kematangan dan bakatnya, memperhatikan kecakapan pemikiran dan tindakan dan perbedaan seseorang antara satu peserta didik dengan lainya.
4.      Dasar Sosial
Dasar ini memberikan gambaran bagi kurikulum pendidikan islam yang tercermin pada dasar sosial yang megandung cirri-ciri masyarakat islam dan kebudayaannya. Baik dari segi pengetahuan, nilai-nilai ideal, cara berfikir dan adat kebiasaan, seni dsb. Kaitanya dengan kurikulum pendidikan islam sudah tentu kurikulum ini harus mengakar terhadap masyarakat dan perubahan dan perkembangan.
5.      Dasar Organisatoris
Dasar ini memberikan landasan dalam penyusunan bahan pembelajaran beserta pengujiannya dalam proses pembelajaran.
                                    Berdasarkan dasar diatas, maka penyusunan sebuah kurikulum pendidikaqn islam harus berlandaskan dasar diatas, yaitu: dasar relights, dasar filosofis, dasar sosiologis, dasar organisatoris, dan dasar psikologis.[14]


III. PENUTUP

Kesimpulan
-    Kurikulum adalah suatu pedoman yang digunakan oleh pendidik untuk membimbing peserta didiknya kearah tujuan tertinggi pendidikan
-    Kurikulum pendidikan islam harus berdasarkan kepada Al-Quran dan Hadits sebagai sumber utama dalam kurikulum pendidikan islam, yaitu didasarkan pada: tauhid dan perintah membaca.
-    Fungsi kurikulum dalam proses pendidikan adalah sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan.
Komponen Kurikulum, meliputi:
a. Tujuan yang ingin dicapai:
b. Isi Kurikulum
c. Media ( sarana dan prasarana
d. Strategi
e. Evaluasi
          Penyusunan sebuah kurikulum pendidikan islam harus berlandaskan dasar-dasar pengembangan kurikulum, yaitu: dasar relights, dasar filosofis, dasar sosiologis, dasar organisatoris, dan dasar psikologis.


DAFTAR PUSTAKA

Prof. DR. H. Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2006.

Ali Al-Jumbulati, Abdul Futuh At Tuwaanisi, Perbandingan Pendidikan Islam, 2002.

Prof. Dr. H. Muhaimin, MA, Pengembangan Kurikulum PAI, (Jakarta: Raja Grapindo Persada, 2005.

Zakiah Drajat, dkk, lmu Pendidikan Islam. (Jakarta: Bumi Aksara, 1992.









 
 






[1]  Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan, Suatu Analisa Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Pustaka al- Husna, 1086) hal. 176
[2]  Hasan Langgulung, Ibid
[3]  Crow and Crow dalam Oemar Malik, Pembinaan Pengembangan Kurikulum. (Bandung: Pustaka Martina, 1987), hal. 2
[4]  H.M. Arifin, Ilmu pendidikan Islam. (Jakarta: Bumi Aksara, 1991). Hal 183
[5]  Zakiah Drajat, dkk, lmu Pendidikan Islam. (Jakarta: Bumi Aksara, 1992). Hal. 121
[6]  Oemar Muhammad al-Thourni al-Syaibani, Falsafah Pendidikan Islam.  Terjem. Hasan Langgulung (Jakarta: Bulan Bintang, 1979). Hal. 485
[7]  Drs. Hery Noer Ali MA, Ilmu Pendidikan Islam, 1999. hal 162
[8]  Ibnu Khaldun, Muqaddimah
[9]  Prof. Dr. H. Muhaimin, MA, Pengembangan Kurikulum PAI, (Jakarta: Raja Grapindo Persada, 2005), hal 5
[10]  Prof. Dr. H. Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia) hal. 155-158
[11]  Al-Qur’an dan Terjemah (Kudus: toko Kitab Mubarokatan Toyyibah) hal. 597
[12]  Prof. DR. H. Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2006), hal.154
[13] Prof. DR. H. Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2006), hal.154
[14] Prof. DR. H. Ramayulis, Ibid, hal. 265-266 

0 komentar:

Poskan Komentar

Tinggalkan Komentar

¾